ceritadikit - dietisien.id

Content creator. Apa Dietisien.id juga termasuk?

Content creator. Pembuat konten. Biasanya diistilahkan dengan orang yang membuat suatu karya perduniaan maya, bisa di youtube ataupun akun media sosial. Entahlah apakah definisinya masuk dengan yang kulakukan sekarang ini. Mari kita coba croscek ya.

Sumber: wikipedia

Kalo menurut wikipedia, “Konten kreator (bahasa InggrisContent Creator) adalah kontribusi informasi ke media apa pun dan terutama media digital untuk pengguna dalam konteks tertentu”. Kita ambil dari situ aja ya, aku lagi tidak berniat mencari sumber lainnya. Hahahaha. Tipikal milenial wkwk. Yaudah lah ya terserah yang nulis 😆.

Sejauh ini apa yang aku dan tim lakukan di Dietisien.id serupa dengan definisi tersebut. Tujuan kami untuk bisa edukasi masyarakat dengan membagikan konten dalam bentuk infografis yang mudah dicerna tapi tetap berbobot dan meluruskan mitos fakta yang beredar di masyarakat 😊.

Kayaknya baru kali ini aku bagi ceritaku tentang Dietisien.id di blog pribadi. Jarang banget aku share cerita DI (singkatan Dietisien.id) di suatu platform. Lebih tepatnya karena gak kepikir aja buat cerita karena udah habis load-nya dan baterenya. Biasanya aku share ini hanya ke orang-orang terdekat yang nanya gimana sih riz buat konten dll. Hayati juga masih banyak belajar dan menganggap banyak hal yang belum aku tahu tentang dunia perkontenan sosmed ini. Aku biasanya banyak share tentang pengalamanku dan tim apa yang kita lakukan di DI. Tujuannya untuk menularkan semangat dulu 😁. Kapan-kapan aku akan cerita gimana proses awal DI dibuat, visi apa yang ingin kami bagi, dan misi yang kami jalankan. Maybe next tulisen ye. Semoga daku gak lupa.

Nah kali ini aku ingin ngomongin tentang pembuat konten. Selama hampir 1 tahun, kurang 1 bulan aku melakukan DI (iya bulan November akhir ini genap 1 tahun), banyak hal yang berubah dalam hidupku. Bener. Wkwk. Dari orang yang gak pernah berpikiran buat menjadi pembuat konten as a professional dan sekarang nyemplung di dunia digital ini sesuatu yang baru bagiku. Aku banyak sekali belajar. How to deliver a complex message, tetapi mudah untuk dicerna oleh pembaca. Copywriting. Skill atau bidang, entahlan term yang pas apa, yang dapat menjelaskan hal tersebut. Teknik copywriting itu lebih banyak digunakan dam bidang marketing untuk menjualkan produknya agar orang tertarik membeli. Di masa sekarang, expertise sosial media untuk brand produk terkenal pasti meng-hire spesialis copywriter untuk bisa menggaet calon pembeli dengan kata-kata merayu yang secara psikologis mereka gak kerasa kalo sebenernya itu strategi marketing (soft-selling) pengiklanan produk tertentu (branding awareness).

Oh iya setelah nyemplung di dunia sosmed ini aku jadi menyadari banyak banget profesional yang mungkin pas jaman para baby boomer gak ada dan istilah profesi ini gak banyak dikenal masyarakat. Dan mereka mengais rezeki dari sini loh. Di dunia maya.

Oke balik lagi ke pengalamanku yang masih seumur jagung ini. Sebagai pembuat konten sosial media, tentu menjadi hal yang menantang untuk konsisten memproduksi karya. Awal DI, aku dan Fifil sudah berkomitmen, let’s make it work, apapun yang terjadi. Karena aku tahu kelemahanku adalah konsisten, aku cari partner yang bisa tetap nyuntikin semangat dan pasti bakal jalan ngelakoni 😆. Aku tipikal orang yang semangat diawal soalnya. Fifil sebagai sahabatku yang sering aku ajakin untuk nyobain sesuatu udah terbukti bakal bisa membuatku on track. Wkwk. Pas itu semangat kita “consistent and persistent“.

Awal mula produksi, kami gak bikin targetan muluk-muluk. Konsisten 3 kali seminggu dulu. Pas itu role-nya, karena yang bisa desain aku, jadi desainer infografis tentu aku dan Fifil yang buat tulisannya. Tentuin tema konten juga beneran kami meeting. Gak kaleng-kaleng. Ngeluangin waktu untuk bahas feed pertama kami, azek. Tapi tetep aja sih ujung-ujungnya curcol. Hahaha. Meskipun dipisahkan jarak dan waktu yang berbeda, Aku di Surabaya dan Fifil di Seoul, kami tetep komunikasi. Kalo istilah sekarang WFH (work from home). Sebelum jamannya, kami udah nerapin itu dan pengguna zoom meeting. Hehehe.

Tantangan konsisten yang paling besar. Mengontrol diri sendiri. Apalagi kalo lagi males buat konten, lamaaaa banget gak kelar-kelar. Ujung-ujungnya akan kembali ke komitmen. Mematuhi atau engga. Itu sih yang memurutku jalan atau tidaknya suatu hal, di semua aspek kehidupan juga.

Setelah kami biasa dengan ritme produksi 3x seminggu selama sebulan, akhirnya kami putuskan untuk meningkatkan frekuensi jadi 5x seminggu dan ini yang sampai sekarang dilakukan. Setelah sebulan awal melakukan, aku pikir perlu buat menetapkan tema konten di awal, tujuannya agar memudahkan dan ada acuannya kalo terplanning. Aku dan Fifil kebetulan emang orang yang biasa dengan planning dan target. Tetapi aku yang lebih fleksibel dan suka ngide ditengah-tengah, dan membuat Fifil agak kesel wkwk. Tapi dia sekarang udah biasa, kata dia, perlu juga eksekusi hal-hal baru yang bagus dan ambil momen kalo memang itu worth dilakukan. Nah disini, aku juga menyadari, partner yang cocok pun penting.

Saat itu aku berusaha selalu membuat monthly timeline produksi konten dan rencana kegiatan. Sungguh saat awal DI banyak ide yang muncul dikepalaku. Aku biasanya buat dalam bentuk mindmap ide tersebut dan aku share ke Fifil. Nanti kami akan milah apa yang dilakukan dll. Dan itu sangat membantu sekali. Saat udah tertulis, hal tersebut jadi lebih kongkret. Ini bisa membentengi tingkat kemalasan. Bahasa kasarnya, deadliner terencana. Wkwk. Pusing kan. Yaudah kalo gak paham gak usah dipikirin. Intinya perencanaan tetap perlu untuk memacu kita tetap berkembang. Kecepatannya yang nanti bisa kita setting sendiri sesuai kondisi, lebih fleksibel.

Menjalani sebagai pembuat konten, setiap hari bakal belajar dan evaluasi. Skill pun juga tetap harus terasah. Karena nyadar bahwa kita pemula dan gak tahu banyak hal, perlu buat kami untuk mencari media belajar. Kami buat dana mengendap, tujuannya untuk membiayai diri kita ningkatin skill. Serius. Aku sama fifil ambil kelas online khusus membahas cara membuat copywriting dan aku ambil kelas video. Selain itu aku juga nambah pengetahuan tentang socmed dari kelas digital marketing dan video-video youtube. Intinya tetap belajar dari source manapun. Hasilnya? Fifil sekarang bisa desain dong. Wkwk. Keren sih dia. Dia dulu jiper banget gak bisa desain sekarang udah expert dong bisa ngomentarin hasil desainku. Wkwk. Sekarang konten tulisan porsinya banyak di aku sebaliknya Fifil desainernya dan tentu juga ada tim yang menghandle. Anyway, aku dulu juga sangat struggle membuat tulisan konten kok. Tantangannya itu tadi, membuat tulisan yang mudah dibaca tanpa mengubah konteks tulisan berbobot. Sampai sekarang kami juga masih sering evaluasi memperbaiki kualitas feed. Masih banyak hal yang harus dipelajari 😊 dam yang paling penting enjoy semua prosesnya. Kalo aku, ada kepuasan sendiri kalo hasil karya kita bisa dinikmati dan bisa membantu orang lain. Paling seneng kalo banyak yang apresiasi dengan ngerepost di IG story nya, likes, komen, dan share postingan kita. Semoga apa yang DI lakukan tetap bisa memberi manfaat ya…

Kesimpulannya, semua orang bisa jadi content creator guys. Kuncinya adalah komitmen, terplanning, dan mau BELAJAR. Dan gak kalah penting, value dari konten tersebut. Sebaik-baiknya karya adalah yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain.

Next, kalo aku mood untuk cerita tentang DI, aku bakal nulis untuk berbagi pengalaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *