refleksi diri

Hai, 2022!

Assalamu’alaikum!
Mau update kehidupan nih aku.
Udah masuk tahun 2022 artinya jatah umurku makin berkurang pula. Sekarang sudah lewat mid twenties + 1, dan banyak juga teman-temanku yang sudah masuk ke jenjang kehidupan baru a.k.a berumah tangga. Isi statusku sekarang di dominasi dengan akad nikah, resepsi, kehamilan, dan tentunya anak. Di umur 20an itu berasa waktu cepat banget. Apalagi ada pandemi tahun 2020, berasa waktu fast forward bangettt. Sebelum pandemi temenku masih single then sekarang udah punya anak dan pada bisa jalan 😁. Maa syaa Allah…. Sebuah keajaiban sekali bukan.

Kalau aku tarik mundur 5 tahun terakhir pula, banyakkkkk banget hal-hal baru yang kupelajari. Alhamdulillah… Thanks to pandemic. Segitu cintanya Allah sama diriku memperkenalkan banyak hal baru yang membuatku berkembang dibanyak bidang. Akupun percaya timeline orang itu beda-beda.

4 years ago, I felt kinda lost honestly, mungkin orang bilang itu adalah quarter life crisis. Setelah lulus sarjana di tahun 2017, opsi pertama semua orang pasti pingin langsung mencicipi dunia kerja yang kata banyak orang “Welcome to the real jungle”. Ya akupun begitu. Cari pengalaman. Alhamdulillah ada jalan setelah aku selesai yudisium, pas sekali ada lowongan bekerja sebagai Data Officer TB di Dinas Kesehatan Kota Surabaya untuk kontrak 6 bulan. Akhirnya aku kirim lamarannya dan sebelum wisuda aku bisa langsung bekerja. Kembali ke kota kelahiranku menjadi momen adaptasi yang lumayan challenging. Aku kehilangan pijakan saat itu karena benar-benar berasa sendiri. Sahabat, link, tempat favorit semua ada di Depok & Jakarta saat itu. Rasanya saat itu seperti duniamu tiba-tiba serba berubah. Akupun harus beradaptasi kembali untuk tinggal bersama orang tuaku. Sebelumnya, terbiasa hidup sendiri yang penuh kebebasan, saat itu keputusan-keputusan tidak bisa dengan mudah aku ambil karena harus menyesuaikan dengan sekitarku.

Ditengah kebimbangan ini, ada satu titik yang membuatku sadar, wake up riz! Ini bukan dirimu. Akhirnya kubuat dan kususun kembali peta yang ingin ku lakukan. Setelah gambaran itu muncul, kuberanikan diri untuk tak memperpanjang kontrak kerja dan melanjutkan kuliah Profesi Dietisien. Dan aku gak pernah menyesal di momen itu. Meskipun gamang juga sebenernya, bayangkan orang yang sudah mencicipi punya penghasilan sendiri dan harus meninggalkan semua itu, dan akupun mendengar gajiku nanti akan dinaikkan setelah perpanjangan kontrak… itu syulit. Tetapi setelah bertekad dan mempertimbangkan banyak hal, ini keputusan terbaik bagiku dan menjadi langkah awal diriku saat ini.

Tahun 2018
Banyak banget teman-temanku mulai meniti karir mereka dan udah mulai satu persatu mengirimkan undangan elektronik. Hati bergejolak. Salah satu impianku ingin sekali punya suami sesegera mungkin setelah lulus. Kalaupun saat itu ada yang berani melamarku pasti udah di iya in aja. Tapi namanya takdir dan realita memang gak seindah banyangan. Hehe. Banyak aspek yang Allah pingin aku belajar sebelum masuk ke jenjang pernikahan ternyata. Aku harus belajar mengenal diriku sendiri, lebih paham kekuatan dan kekuranganku. Intinya Allah pingin aku menjadi orang yang lebih dewasa.

Tahun 2019
Satu tahun pendidikan profesi yang amat sangat luar biasa. Meskipun menantang, tetapi aku menemukan banyak pijakan firm disini yang membentuk mindsetku sebagai ahli gizi dan akhirnya berganti menjadi Dietitian. Tahun ini pula aku makin dekat dengan para sepupuku. Tinggal di rumah nenek dan kampus yang sama dengan sepupuku menjadikan interaksi kita makin sering. Beda sekali saat kuliah S1 dulu, akulah yang paling jauh di antara mereka.

Dipenghujung tahun, akhirnya Dietisien.id lahir! Modal nekat, otak, dan dengkul. A new journey begin!

Tahun 2020
Rasanya seperti menemukan “mainan baru”! Dietisien.id mulai melangkah. Perasaan happy punya mainan baru. Semangat membara~~ Banyak eksplorasi yang kulakukan. Ide-ide banyak bermunculan. Semua diriingi oleh kesungguhan dan komitmen. Dorongan utama dan bensinku adalah dari pertanggungjawabanku setelah mempunyai ilmu ini. Aku pingin banget melakukan langkah kecil untuk perbaikan gizi di Indonesia.

Tahun 2021
Resillience. Kata yang baru kupahami maksudnya setahun belakangan.

Resilience is the ability to withstand adversity and bounce back from difficult life events. Being resilient does not mean that people don’t experience stress, emotional upheaval, and suffering. Some people equate resilience with mental toughness, but demonstrating resilience includes working through emotional pain and suffering .

Everydayhealth.com

Namanya hidup pasti menemui kerikil-kerikil di dalamnya. Awal tahun ini semua emosi bercampur jadi satu. Rasanya ups and downs. Digantungin. Kehilangan. Hope. Syukur. Empat kata itu yang mungkin menggambarkan emosiku. Tapi aku selalu percaya setelah kesusahan pasti ada kemudahan.
Saat itu aku merasakan Dietisien.id kayak kehilangan arah.

Rasanya kayak diputusin! Di tahun inipun aku belajar untuk tidak bergantung kepada manusia dan punya ekspektasi tinggi pada orang yang paling dekat dengan kita. Oh ini toh yang dirasakan orang saat break up. Hidup rasanya hampa. Rasanya kayak zombie. Impian-impian yang kuuntai rasanya jatuh semua kala itu. Bedanya ini bukan hubungan romantis gimana-gimana ya. I lost my partner in many aspects of life. Bestfriend and work-partner. But, memang waktu adalah healing terbaik. Saat ini hubunganku kian membaik kok. Sahabat sejati itu bakal kembali lagi. Itu yang kurasakan.

Di tahun ini juga, Alhamdulillah banyak sekali project baru yang kudapatkan. Betul, rezeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Ternyata dibalik kesedihan ada hal-hal yang tidak terpikir malah berdatangan. Maa syaa Allah, indah sekali skenario Allah. Saat kita berani untuk menggenggam, memeluk diri kita, dan menerima kondisi, rasanya hati dan pikiran lebih tenang. Pintu-pintu keluar akhirnya dibukakan. Malah pengalaman baru yang kita nikmati.

Momen yang paling manis dan rasa syukur tiada tara adalah saat tutup buku tiap bulannya. Alhamdulillah, aku bisa menjadi perantara rezeki bagi orang lain. Tujuan delapan rekening berbeda, Alhamdulillah bisa ku kirim, meskipun nominal yang masih belum seberapa dengan effort dan dedikasi luar biasa dari timku. Sungguh rasanya jenis kebahagian yang amat berbeda.

Tahun 2022
Belajar dari yang lalu. Berproses itu yang terpenting, hasil akhirnya biar Allah yang memutuskan. Journey inilah yang membentuk aku hari ini. Terimakasih untuk pelajaran berharganya. Waktunya bangkit kembali. Tetap semangat!

Terimakasih Rizta sudah melangkah sejauh ini. Terimakasih sudah mengerti diriku yang penuh kekurangan ini. Terimakasih sudah mau mencoba berbagai hal baru. Terimakasih telah menjadi sosok yang gigih dan persisten. Terimakasih sudah mendengarkan lubuk hati terdalammu. Terimakasih sudah percaya.

Selalu ingat bahwa Allah selalu membersamai langkahmu. You’re the employee of Allah

Pukul 07.41, hari Kamis, 20 Januari 2022. Me time sebelum berangkat kerja :) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *